SEMARANG – Operasi Ketupat 2026 resmi ditutup, namun pengamanan arus balik Lebaran belum benar-benar berakhir. Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menegaskan personel tetap disiagakan di lapangan untuk mengantisipasi potensi gelombang kedua arus balik yang diperkirakan masih bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Penutupan Operasi Ketupat 2026 dilakukan langsung oleh Irjen Pol. Agus Suryonugroho di Alun-alun Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026) malam. Meski operasi resmi berakhir, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri tetap melanjutkan pengamanan melalui kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) guna memastikan lalu lintas tetap terkendali di tengah mobilitas masyarakat pasca-Lebaran.
“Operasi Ketupat sudah ditutup, namun kegiatan rutin yang ditingkatkan tetap berjalan. Anggota masih berada di lapangan untuk mengantisipasi arus balik, termasuk arus balik kedua,” kata Agus.
Langkah ini diambil lantaran pergerakan kendaraan di sejumlah wilayah masih cukup tinggi. Korlantas mencatat sejumlah kawasan aglomerasi seperti Bandung, Bali, dan Malang Raya masih mengalami kepadatan lalu lintas, terutama akibat aktivitas silaturahmi lokal masyarakat yang belum sepenuhnya berakhir.
Menurut Agus, selama Operasi Ketupat 2026, Polri membagi pola pengamanan ke dalam lima klaster utama, yakni jalan arteri, jalan tol, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, dan lokasi wisata. Skema ini dinilai efektif untuk memetakan potensi kerawanan selama masa mudik hingga arus balik Lebaran.
“Operasi Ketupat sendiri memiliki lima klaster pengamanan. Pertama adalah jalan arteri, yang hingga saat ini masih cukup padat di wilayah aglomerasi seperti Bandung, Bali, dan Malang Raya, karena masih banyak masyarakat melakukan silaturahmi lokal,” ujarnya.
Arus Balik Lebaran 2026 Masih Padat, Rekayasa Lalu Lintas Jadi Kunci
Untuk mengurai lonjakan kendaraan yang sempat terjadi selama arus mudik dan arus balik, Korlantas Polri menerapkan berbagai strategi rekayasa lalu lintas. Mulai dari one way nasional, one way lokal presisi, hingga contraflow bertahap di beberapa lajur ruas Tol Trans Jawa.
Skema rekayasa tersebut disebut menjadi salah satu faktor penting yang membuat pergerakan kendaraan tetap terkendali, meski volume lalu lintas selama musim mudik dan balik Lebaran 2026 berada pada level tinggi.
“Dengan manajemen rekayasa lalu lintas yang terukur, arus mudik dan arus balik dapat dikelola dengan baik meskipun volumenya tinggi,” jelas Agus.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa gelombang arus balik Lebaran 2026 belum sepenuhnya selesai, terutama di wilayah yang masih menjadi magnet pergerakan warga usai libur panjang.
Operasi Ketupat 2026 Catat Hasil Positif, Fatalitas Kecelakaan Turun 30,89 Persen
Di balik padatnya mobilitas mudik dan balik tahun ini, Korlantas Polri mencatat capaian positif dari sisi keselamatan. Agus mengungkapkan, angka fatalitas korban kecelakaan lalu lintas turun hingga 30,89 persen selama Operasi Ketupat 2026.
Tak hanya itu, jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas juga turun 5,75 persen dibanding periode sebelumnya. Capaian ini menjadi indikator penting bahwa pola pengamanan dan rekayasa lalu lintas yang diterapkan selama musim Lebaran tahun ini berjalan cukup efektif.
Penurunan angka kecelakaan tersebut juga disebut sebagai hasil dari kolaborasi lintas sektor, mulai dari kepolisian, pemerintah daerah, pengelola jalan tol, hingga dukungan masyarakat yang dinilai semakin disiplin dalam berlalu lintas.
Kakorlantas: Operasi Ketupat Adalah Operasi Kemanusiaan
Agus menegaskan, keberhasilan pengamanan mudik dan balik Lebaran 2026 bukan hanya soal kelancaran arus kendaraan, tetapi juga tentang kehadiran negara dalam memastikan perjalanan masyarakat berlangsung aman, nyaman, dan bermakna.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengamanan, termasuk masyarakat yang dinilai ikut berperan besar menjaga ketertiban di jalan selama momen Lebaran.
“Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Negara hadir untuk memastikan perjalanan mudik dan balik berjalan aman, nyaman, dan penuh makna,” pungkasnya.
Dengan masih tingginya mobilitas di sejumlah titik, Korlantas memastikan pengawasan lapangan belum akan benar-benar dikendurkan. Arus balik Lebaran 2026 gelombang kedua kini menjadi fokus utama, agar potensi kepadatan maupun kecelakaan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Radio Sehati News berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Koreksi & Hak Jawab .







