SATU film, satu perjuangan, dan satu pertanyaan besar: apakah cinta seorang ibu cukup untuk mempertahankan anaknya? Kisah ini bukan sekadar drama—ini potret nyata yang mungkin terjadi di sekitar kita.
Sahabat Sehati Sejiwa, pada akhir minggu yang lalu penulis bersama komunitas Membaca Raden Saleh berkesempatan menonton film bertajuk “Kupeluk Kamu Selamanya” (@kupelukkamuselamanya).
Film produksi @kuy.studios dan debut karya produser Dinda Hauw (@dindahw) yang disutradarai oleh Pritagita Arianegara ini mengangkat tema keluarga yang siap menyentuh hati para penonton.
Mengutip dari laman Cinema XXI, film “Kupeluk Kamu Selamanya” menceritakan kisah Naya, seorang perempuan yang menjalani hidupnya hanya dengan satu tujuan, yakni memperjuangkan masa depan anaknya, Aksa.
Di tengah keterbatasan dan luka yang tidak sepenuhnya ia ceritakan, Naya berusaha tetap berdiri, menjadi sosok yang kuat, meski dunia di sekitarnya tidak selalu berpihak padanya. Setiap keputusan yang ia ambil, setiap langkah yang ia jalani, selalu kembali pada satu hal: bagaimana memastikan Aksa dapat tumbuh dengan kehidupan yang lebih baik dari dirinya.
Namun, perjuangannya menemui titik uji ketika Bagaskara hadir dalam kehidupan mereka. Dengan alasan lebih kuat secara finansial, Bagaskara yang sudah menikahi selingkuhannya saat masih menjadi suami Naya berusaha mengambil hak asuh Aksa. Padahal pengadilan sudah menetapkan hak asuh Aksa ada di tangan Naya sebagai ibunya. Sebuah ancaman yang tidak hanya mengguncang hidup Naya, tetapi juga memaksanya menghadapi kenyataan bahwa menjadi seorang ibu saja tidak selalu cukup di mata dunia.
Di tengah tekanan, keterbatasan, dan ketakutan akan kehilangan, Naya dipaksa untuk melangkah lebih jauh dari yang ia bayangkan—belajar memperjuangkan haknya, mempercayai dirinya sendiri, dan menemukan kembali kekuatan yang selama ini ia pendam.
Film ini dibintangi oleh sederet pemain seperti Hana Malasan, Jared Ali, Ibnu Jamil (@ibnujamilo), Fanny Ghassani, Yurike Prastika, dan Vonny Anggraini.
Film ini sangat beririsan dengan fenomena yang banyak terjadi di masyarakat, khususnya pada pemegang hak asuh anak yang menjadi korban perceraian orang tuanya. Padahal ada yang namanya mantan suami, mantan istri, namun tidak pernah ada mantan anak. Bahwa pemegang hak asuh bisa saja mantan suami atau mantan istri, namun kepentingan anak korban perceraian orang tuanya itu harus selalu diutamakan.
Dalam kenyataannya, mantan pasangan tersebut kerap bertengkar bahkan di depan anak mereka, berebut hak asuh anak padahal sudah ditetapkan oleh pengadilan.
Bicara mengenai hak asuh anak, maka kita akan teringat dengan selebritas yang baru saja melangsungkan pernikahannya: El Rumi. El Rumi saat berusia 8 tahun harus menelan fakta pahit bahwa dirinya (bersama dua saudaranya) menjadi korban perceraian orang tua mereka Ahmad Dani & Maya Estianty. Pengadilan memutuskan mengabulkan gugatan cerai dari Maya dan memberikan hak asuh anak-anak yang saat itu masih di bawah umur kepada Maya. Namun faktanya sangat menyedihkan, bagaikan luka yang masih berdarah namun disiram cuka lagi, anak-anak tersebut dipaksa ayah mereka untuk tinggal bersama ayah serta seorang ibu tiri.
Sekali lagi, hak asuh bisa pada siapa saja (mantan suami atau mantan istri), namun kepentingan anak-anak harus diutamakan. Kepentingan anak yang tidak hanya terbatas pada dukungan keuangan, namun juga dukungan psikologis, karena yang paling besar menanggung dampak perceraian adalah anak korban perceraian.
Demikianlah Sahabat Sehati Sejiwa, banyak hal yang menimbulkan empati kita setelah menonton film “Kupeluk Kamu Selamanya”. Filmnya bagus, nonton deh segera.
Salam guyub rukun forever.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Radio Sehati News berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Koreksi & Hak Jawab .







